Friday, December 25, 2015

Piknik untuk Sang Imam

Beberapa hari menjelang hari natal, beberapa akun dan member dari media sosial gencar melakukan gerakan "share and like it" terkait dengan pelarangan penggunaan asesoris natal bagi masyarakat muslim dan juga tentang pengucapan selamat natal kepada orang nasrani. Melihat banyak member yang meng-like dan meng-sharekan berita tersebut, saya terharu sekali karena ukhwah islamiyah sudah terjalin sebegitu kuatnya, dan para muslim sudah bisa mengamalkan surat Al-Asr dengan sangat baik. Saya juga semakin terharu takala berpikir jika hal tersbut akan membahagiakan Imam besar Negara Khilafah Imam Al Ustadz Felix bin Siauw, karena beliau akan berpikir bahwa dakwahnya telah berhasil memasuki relung relung jiwa umat muslim Indonesia.

ALLAHU AKBAR!!!! (Ya Allah, Ya Raab KENAPA saya memekikan takbir?)

Rasa haru dan bahagia sepertinya juga dirasakan oleh penganut aliran Share and like it mazhab Jonruisme (hampir 98,99%) dan juga garda terdepan dari gerakan Khilafahsisasi seperti Juni Dwi Anggoro dan Taufik Alamsyah. Apalah daku ini yang hanya sebagai pengagum rahasia Imam Besar dan Pendukung Rahasia negara Khilafah yang hanya bisa memperhatikan kultwit kultwit sang imam.

Lanjut kepermasalahan awal, tentang haramisasi pengucapan selamat hari natal dan penggunaan asesorisnya. Ada beberapa member yang menolak larangan tersebut, mereka berujar bahwa itu adalah bentuk toleransi, bentuk penghormatan, bentuk rasa dari nilai nilai pluralitas dan segala tetek bengeknya ( ah sang Imam pasti akan sedih membaca hal tersebut) padahal sang Imam pernah bersabda bahwa hal tersebut dapat merusak AKIDAH dan juga membuat muslim menjadi MURTAD bin KAFIR (astagfirullah, mereka itu SIFILIS Imam, ilmu Islamnya cetek, tidak seperti diri mu).

Lalu ada informasi sedikit yang ingin saya kasih tahu kepada Imam, masa mantan Presiden ke-4 negara Replubik Indonesia (bukan khilafah) pernah menulis kalo Al Quran mengakui natal. Al Quran menyebutkan kelahiran nabi Isa sebagai yauma wulida atau salamun yauma wulid (kedamaian bagi yang terlahir pada saat ini). Di Surat Maryam juga menyebutkan tentang Al salamu 'alaiyya yaumu wulidtu (kedamaian atas diriku pada hari kelahiran ku). Terakhir mantan Presiden tersebut menuliskan;
"Natal memang diakui oleh kitab suci Alquran, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran Beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah Swt."

Sudah sudah cukup, saya tidak sanggup melihat itu. Saya tahu pasti hati Sang Imam akan terluka dan sedikit demi sedikit air mata akan berlingan di matanya. Tapi jangan terlalu di pikirkan, Imam bisa saja rehat sejenak dan pergi piknik untuk hari ini dan kedepannya.
Bukannya Imam juga menikmati libur natal dan tahun baru?

Refrensi: islami.co/m/read/telaah/1512569/harlah-natal-dan-maulid
Jakarta, 25 Desember 2015
Indra Fahrozi

No comments:

Post a Comment